Pada Selasa, 03 Maret 2025, suasana di kelas A Abu Bakar di TK IT Al-Khairaat Yogyakarta tampak berbeda dari biasanya. Tepat pukul 10.00 WIB, anak-anak mengikuti kegiatan sambung hadits yang berlangsung dengan penuh semangat dan keceriaan. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pembiasaan nilai-nilai Islam sejak usia dini mampu membentuk karakter anak secara bertahap dan menyenangkan.
Tiga hadits yang disambungkan dalam kegiatan tersebut adalah Hadist jangan suka marah, Hadits tentang Kasih Sayang, dan Hadist Senyum Sodakoh. Anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok kecil, kemudian secara bergantian maju untuk melafalkan hadits yang disebutkan oleh guru. Dengan suara lantang dan wajah ceria, mereka menyambung hafalan secara runtut. Momen ini bukan hanya menjadi ajang unjuk keberanian, tetapi juga menunjukkan bahwa anak-anak telah terbiasa berinteraksi dengan hadits dalam keseharian mereka di sekolah. Suasana kelas terasa hangat dan hidup. Ketika satu kelompok menyelesaikan hafalannya, dan kelompok lain menyimak.

Ayah Bunda, menghafal hadits sejak usia dini memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter. Hadits adalah pedoman hidup Rasulullah yang berisi nilai-nilai akhlak mulia. Ketika anak terbiasa mendengar dan mengucapkannya setiap hari, maka pesan kebaikan itu perlahan tertanam dalam hati mereka. Anak yang sering mengulang hadits tentang tidak mudah marah, misalnya, akan lebih teringat untuk menahan emosi saat menghadapi konflik kecil. Anak yang memahami hadits tentang kasih sayang akan lebih mudah berbagi dan peduli kepada teman. Dan ketika anak menghafal bahwa senyum adalah sedekah, ia belajar bahwa berbuat baik bisa dimulai dari hal yang paling sederhana.

Pembiasaan seperti inilah yang menjadi kekuatan pendidikan di TK IT Al-Khairaat. Hafalan hadits tidak diajarkan secara instan, melainkan bertahap, konsisten, dan sesuai perkembangan usia anak. Karena dilakukan secara rutin dan dengan metode yang menyenangkan, anak-anak tidak merasa terbebani. Justru mereka menikmati prosesnya. Dari kebiasaan menghafal dan memahami hadits tersebut, perlahan terbentuk karakter yang lebih sabar, penyayang, dan ramah dalam keseharian.
Dampaknya terlihat nyata dalam interaksi sehari-hari di sekolah. Anak lebih mudah diarahkan ketika terjadi perbedaan pendapat, lebih cepat meminta maaf saat melakukan kesalahan, serta lebih ringan tersenyum dan menyapa. Inilah bukti bahwa ketika nilai hadits ditanamkan sejak dini, maka perilaku baik tumbuh sebagai kebiasaan, bukan karena paksaan. Pendidikan karakter bukan hanya diajarkan, tetapi dihidupkan dalam aktivitas harian.
Baca Juga : Dongeng Jumat Ceria “Belajar Puasa Itu Asyik Lho!”: Anak TK IT Al-Khairaat Belajar Puasa dengan Ceria Bersama Kak Slamet Gunawan
Kegiatan sambung hadits di kelas A Abu Bakar pada 03 Maret 2025 menjadi gambaran komitmen TK IT Al-Khairaat dalam membangun generasi yang berakhlak mulia. Sekolah ini tidak hanya fokus pada kecerdasan akademik, tetapi juga pada pondasi ruhiyah dan pembentukan sikap. Melalui pembiasaan hafalan hadits yang terarah, anak-anak dipersiapkan menjadi pribadi yang mampu mengendalikan emosi, menebar kasih sayang, dan menghadirkan kebaikan di mana pun mereka berada.
Semua ini sejalan dengan program unggulan 3A yang menjadi ciri khas TK IT Al-Khairaat, yaitu Al-Qur’an, Akhlak, dan Akademik. Dengan keseimbangan antara penguatan nilai Qur’ani, pembentukan akhlak melalui hadits, serta stimulasi akademik yang optimal, TK IT Al-Khairaat terus berkomitmen mencetak generasi Qur’ani yang cerdas, santun, dan berkarakter kuat sejak usia dini.